El Nino Diprediksi Puncak September, Menteri LHK Sebut Karhutla Kritis

Jumat, 04 September 2026 | 00:52:31 WIB
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan keterangan pers mengenai puncak El Nino yang diprediksi terjadi pada September.

BISNISTERKINI.COM — Kebakaran yang membakar Sumatra dan sebagian Kalimantan sejak pertengahan Juli telah menebarkan asap tebal ke Malaysia, Singapura, hingga Palawan, Filipina. Beberapa wilayah mencatat indeks polusi lebih dari 15 kali ambang batas aman WHO dalam beberapa pekan terakhir.

Langkah Pemerintah Menghadapi Puncak El Nino

Raja Juli Antoni menyebut bulan ini menjadi ujian utama penanganan bencana. "Masalah kami belum selesai. September adalah puncak El Nino," ujarnya di hadapan wartawan pekan ini. "September adalah pertarungan utama bagi kami."

Profesor Bambang Hero Saharjo, pakar forensis kebakaran hutan dari Institut Pertanian Bogor, memperkirakan cakupan daratan yang terbakar tahun ini bisa jauh lebih luas dari 359.000 hektare yang hangus tahun lalu. Merujuk pada studi yang dia kutip, Bambang menyebut luasan berisiko menembus 11 juta hektare.

Derita Warga dan Anak di Daerah Terdampak

Kementerian Kesehatan mencatat 50.000 lebih kasus ISPA selama periode Juli–Agustus. Sekitar seperempatnya adalah anak di bawah lima tahun. Rizma Nur Fatimah, asisten pengajar di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, bercerita asap menembus bangunan kelas dan rumah. "Kami sudah terbiasa, tapi tahun ini paling parah," katanya kepada BBC.

Di Desa Pengayuan, Kalimantan Selatan, Misbah, ibu berusia 23 tahun, mengalami hal serupa. Anaknya yang berusia tiga tahun terserang batuk dan pilek sejak kabut melanda. Gejala serupa dilaporkan warga Palawan: iritasi mata dan tenggorokan. Malaysia juga mencatat peningkatan kasus asma dan konjungtivitis seiring kabut asap melintasi perbatasan.

Api yang Sulit Padam di Lahan Gambut

Kebakaran tahun ini bukan kejadian pertama. Para peneliti menghubungkan darurat asap dengan perubahan tata guna lahan yang berlangsung puluhan tahun, ketika hutan dan gambut Kalimantan diubah menjadi perkebunan serta konsesi kehutanan. Kebiasaan membuka lahan dengan api dinilai masih banyak dipakai praktik komersial skala besar.

Nisa Novita, peneliti gambut di Yayasan Konservasi Alam Nusantara, mengingatkan risiko ekstrem jika lahan gambut yang telah dikeringkan ikut terbakar. "Gambut menyimpan karbon selama ribuan tahun, tetapi begitu terbakar, seluruh karbon itu bisa lepas cepat ke atmosfer," jelasnya.

Masyarakat di daerah terdampak berharap pemerintah mempercepat langkah penanggulangan. Namun prediksi El Nino yang terus menguat membuat sebagian pihak khawatir fase darurat masih berlanjut hingga beberapa bulan mendatang.

Tags

Terkini