JAKARTA - Persiapan ibadah haji kini tidak lagi sebatas pembekalan teori dan praktik ibadah di darat.
Di Aceh, calon jemaah mendapatkan pengalaman berbeda yang lebih mendekati kondisi nyata perjalanan ke Tanah Suci. Melalui langkah strategis Garuda Indonesia, satu unit pesawat dihadirkan sebagai fasilitas manasik haji untuk membantu jemaah memahami seluruh proses penerbangan sejak sebelum keberangkatan.
Inisiatif ini menjadi terobosan baru dalam pelaksanaan manasik haji di Indonesia, khususnya bagi wilayah Aceh yang memiliki peran historis dalam perjalanan panjang maskapai nasional. Dengan pendekatan praktis dan edukatif, manasik kini dirancang untuk menyiapkan jemaah secara mental, teknis, dan emosional sebelum menjalani perjalanan udara jarak jauh menuju Arab Saudi.
Pesawat Manasik Disiapkan untuk Praktik Nyata Jemaah
Garuda Indonesia menghibahkan satu unit pesawat Boeing 737 eks Citilink untuk digunakan sebagai sarana manasik di Asrama Haji Kelas I Aceh. Pesawat tersebut tidak sekadar dipajang, melainkan telah dirakit ulang dan disesuaikan menyerupai kabin pesawat aktif yang biasa digunakan dalam penerbangan komersial.
Di dalam kabin, calon jemaah dapat mempraktikkan berbagai tahapan perjalanan udara, mulai dari proses boarding, penempatan bagasi kabin, penggunaan sabuk pengaman, hingga memahami prosedur keselamatan selama penerbangan. Seluruh simulasi dirancang agar menyerupai kondisi sebenarnya saat penerbangan haji.
Langkah ini menjawab kebutuhan jemaah yang selama ini hanya mendapatkan gambaran perjalanan udara melalui penjelasan lisan atau visual terbatas. Dengan praktik langsung, pemahaman menjadi lebih konkret dan mudah diterima.
Mengurangi Kecemasan Jemaah, Terutama Lansia
Salah satu tantangan terbesar dalam penyelenggaraan haji adalah kecemasan jemaah, terutama mereka yang baru pertama kali naik pesawat atau harus menempuh perjalanan udara panjang. Kondisi ini kerap dialami oleh jemaah lanjut usia yang jumlahnya cukup besar setiap musim haji.
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan bahwa keberadaan pesawat manasik ini bertujuan untuk menciptakan rasa tenang dan kesiapan mental jemaah.
"Pesawat ini kami hadirkan agar jemaah merasakan suasana penerbangan haji. Saat hari keberangkatan tiba, mereka lebih tenang dan siap," kata Dahnil.
Dengan merasakan langsung suasana kabin, jemaah diharapkan tidak lagi canggung atau panik saat menghadapi proses penerbangan yang sesungguhnya. Manasik pun berkembang dari sekadar ritual persiapan ibadah menjadi pembekalan perjalanan secara menyeluruh.
Manasik Tidak Lagi Sekadar Teori
Selama ini, pelaksanaan manasik haji identik dengan pembahasan rukun, wajib, dan sunah haji. Meski penting, pendekatan tersebut sering kali belum menyentuh aspek teknis perjalanan yang justru menjadi sumber kekhawatiran jemaah.
Melalui hibah pesawat ini, manasik di Aceh menjadi lebih komprehensif. Jemaah tidak hanya memahami tata cara ibadah, tetapi juga siap menghadapi proses perjalanan mulai dari embarkasi hingga tiba di Tanah Suci.
Simulasi penerbangan ini juga membantu jemaah memahami aturan keselamatan, tata tertib di dalam pesawat, serta prosedur yang harus dipatuhi selama penerbangan jarak jauh. Hal ini diharapkan dapat mengurangi risiko ketidaknyamanan dan meningkatkan kedisiplinan selama perjalanan.
Nilai Historis Aceh dan Jejak Garuda Indonesia
Penempatan pesawat manasik di Aceh bukan tanpa alasan. Provinsi ini memiliki hubungan historis yang erat dengan lahirnya Garuda Indonesia. Dari Aceh, pesawat legendaris Seulawah RI-001 pernah menjadi tonggak awal berdirinya maskapai nasional tersebut, berkat dukungan penuh masyarakat Aceh pada masa awal kemerdekaan.
Hibah pesawat ini sekaligus menjadi bentuk penghormatan Garuda Indonesia terhadap kontribusi Aceh dalam sejarah penerbangan nasional. Jejak sejarah tersebut kini kembali dihadirkan, bukan hanya sebagai simbol, tetapi juga sebagai sarana pendidikan dan pelayanan ibadah.
Langkah ini memperkuat ikatan emosional antara Garuda Indonesia dan masyarakat Aceh, sekaligus menegaskan peran maskapai sebagai bagian dari perjalanan bangsa.
Sinergi Pemerintah dan Maskapai untuk Haji Nasional
Di bawah kepemimpinan Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny H. Kairupan, maskapai pelat merah ini menegaskan posisinya sebagai mitra strategis negara dalam ekosistem penyelenggaraan haji nasional. Hibah pesawat manasik ini menjadi bukti konkret sinergi antara pemerintah pusat, maskapai, dan pemerintah daerah.
Kolaborasi tersebut bertujuan mempersiapkan jemaah sejak dari daerah asal dan embarkasi, bukan hanya saat keberangkatan. Dengan kesiapan yang lebih matang, diharapkan penyelenggaraan haji dapat berjalan lebih tertib, aman, dan nyaman bagi seluruh jemaah.
Ke depan, fasilitas manasik berbasis simulasi seperti ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Dengan pendekatan praktis dan manusiawi, jemaah haji Indonesia dapat diberangkatkan tidak hanya dalam kondisi sehat secara fisik, tetapi juga siap secara mental dan teknis menghadapi perjalanan ibadah yang sakral.